“Bintang Ketjil”: Menyelamatkan Film Anak Untuk Anak-Anak Indonesia

By administrator 28 Agu 2019, 13:13:01 WIBKegiatan Setjen
“Bintang Ketjil”: Menyelamatkan Film Anak Untuk Anak-Anak Indonesia

Yogyakarta, Kemendikbud – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) menyelenggarakan pemutaran dan diskusi film hasil restorasi “Bintang Ketjil” yang diproduksi tahun 1963 pada hari Selasa, 20 Agustus 2019 di CGV J-Walk Yogyakarta. Pemutaran dan diskusi ini merupakan gagasan Pusbangfilm yang diselenggarakan bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Restorasi adalah salah satu program Pusbangfilm yang bertujuan sebagai upaya penyelamatan terhadap film Indonesia yang berusia lebih 50 tahun. Hal ini tentunya menjadi perhatian bagi pemerintah untuk tetap mempertahankan karya anak bangsa khususnya film-film klasik, sehingga dapat ditonton kembali dan dijadikan sebagai bahan pembelajaran baik dari segi teknik produksi film hingga sejarah Indonesia melalui film.

Film Bintang Ketjil menjadi film kedua yang direstorasi oleh Pusbangfilm, setelah Pagar Kawat Berduri di tahun 2018. Film yang disutradarai oleh Wim  Umboh dan Misbach Jusa Biran ini dipilih untuk direstorasi sebagai usaha pemerintah untuk meramaikan khazanah film yang ramah anak, terlebih lagi film ini juga telah lolos sensor oleh Lembaga Sensor Film untuk kategori Semua Usia. Di samping itu, cerita film Bintang Ketjil dianggap masih relevan dengan kondisi masyarakat sekarang ini di mana kesibukan orang tua menyebabkan mereka abai dengan perkembangan anaknya.

Kegiatan pemutaran dan diskusi film Bintang Ketjil kali ini menghadirkan Prof. Dr. M. Agus Burhan, M. Hum selaku Rektor ISI Yogyakarta; Agnes Widiasmoro selaku penanggung jawab acara sekaligus Ketua Prodi Film danTV ISI Yogyakarta, Maria Umboh dan Susi Mambo selaku pemeran utama film Bintang Ketjil; Rizka Akbar dari PT. Render Digital Indonesia;  Espita Riama, Kasubid Pengarsipan Pusbangfilm. Mereka berharap dengan adanya kegiatan ini, perfilman Indonesia kedepannya semakin menginspirasi dan mengedukasi agar anak bangsa terus menonton film Indonesia yang juga sebagai bagian dari apresiasi masyarakat terhadap perfilman Indonesia.

Agus Burhan, Rektor ISI Yogyakarta mengungkapkan bahwa restorasi film merupakan penyelamatan sejarah melalui film di mana nilai-nilai sejarah ini dapat menjembatani generasi muda dan generasi sebelumnya, "cerita yang terkandung dalam film ini dapat dijadikan pelajaran oleh generasi muda, baik dari segi politis, realita sosial hingga kreatifitas sinematografinya yang nantinya memperkaya khazanah pengetahuan. Mungkin ini yang dijadikan alasan oleh Pusbangfilm untuk melakukan restorasi film ini" ujar rektor.

Maria Umboh, salah satu aktor utama mengungkapkan kebahagiaannya setelah puluhan tahun dapat kembali menonton filmnya, "mengapresiasi Pusbangfilm yang kembali menghidupkan film-film legendaris sehingga anak cucu kami dapat turut menyaksikan hasil karya kami". Senada dengan Maria, Susi Mambo mengaku senang setelah puluhan tahun dapat dipertemukan kembali dengan rekan-rekan yang terlibat dalam Bintang Ketjil seperti Maria Umboh, Bung Nana, hingga asisten sutradara, Bobby Shandy yang masih hidup hingga sekarang. Diskusi film ditutup oleh penampilan Rizky Adinda, mahasiswa ISI Yogyakarta, yang membawakan beberapa lagu anak-anak. (MY)