Pagelaran Wayang Kulit Tiga Generasi “Pandawa Makarya”

By administrator 31 Okt 2017, 10:43:37 WIBsetjen kemendikbud
Pagelaran Wayang Kulit Tiga Generasi “Pandawa Makarya”

Jakarta, 28 Oktober 2017 – Bertempat di Plaza Insan Berprestasi, Gedung Ki Hadjar Dewantara (Gedung A) lantai 1, Komplek Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dalam rangka Festival Literasi Sekolah 2017, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan Pertunjukan Seni “Pagelaran Wayang Kulit Tiga Generasi “Pandawa Makarya””. Pagelatan wayang kulit dimulai pukul 20.00 WIB dihadiri oleh para pejabat di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta oleh para masyarakat sekitar.

Dalam pagelaran wayang ini, menampilkan tiga dalang dari tiga generasi yaitu Fairuz Ozza, Woro Mustiko Siwi, dan Ki Manteb Soedharsono. Untuk menyemarakkan acara,  dalam Pagelaran ini  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Bapak Muhadjir Effendy ikut berpartisipasi dengan “sedikit” mempertunjukan keahlian beliau sebagai dalang.

sebagai informasi Fairuz Ozza (Jakarta, 10 agustus 2007) yang merupakan dalang cilik merupakan murid di SD Muhammadiyah 5 Kebayoran Baru Jakarta ini mengenal wayang sejak 1,5 tahun dan pernah mentas di beberapa acara dan tempat, diantaranya di Museum Wayang Kota Tua, acara 4 Pilar di MPR RI Kota Tangerang, Festival Dalang Bocah Nusantara 2015 di Solo, Festival Dalang Bocah Nusantara 2016 di Yogyakarta, dan masih banyak lainnya.

Pada pagelaran ini Fairuz Ozza memainkan lakon "Perguruan Suko Limo" atau "Ayo Sekolah" yang diadopsi dari lakon pakem "Pendadaran Sukolimo" yang menceritakan tentang Pandawa dan Kurawa pada masa kecil yang disuruh berguru di perguruan Soko Limo milik seorang pendita bernama Drona.

Sedangkan Dalang Woro Mustiko Siwi membawakan lakon “Kunthi Darmo” yang diadopsi dari lakon baku "Seno Bumbu" atau "Bimo Labuh" yang berisi tentang peran Kunthi sebagai orang tua yang berhasil dalam mendidik anak-anaknya. dewi kunthi selalu menanamkan budi pekerti kepada putra-putranya sehingga ia berhasil mencetak para pandawa menjadi pribadi yang religius, mandiri, kreatif dan berkarakter. Dalam satu episode Bratasena salah satu Pandawa berhasil mengentaskan penderitaan rakyat kecil dengan membebaskan keluarga begawan Wijrapa dari seorang raja lalim bernama Prabu Baka, Dewi Kunti mengetahui hal tersebut yang kemudian mencari Bratasena untuk menolong keselamatan Ki Demang. Melalui pertempuran yang sengit, akhirnya Bratasena berhasil mengalahkan Prabu Baka. Kematian Prabu Baka membuat negara Ekacakra kembali aman, rakyat hidup tenteram, damai dan sejahtera.

sementara Dalang Ki Mantep Soedharsono sendiri membawakan lakon ”Pandawa Makarya” yang diadopsi dari lakon baku "Babad Wanumarto" atau "Amarta Binangun" yang menceritakan kisah ksatria Pandawa Lima sepeninggal ayahnya, Pandu Dewanata, menuntut hak atas kerajaan kepada penguasa Hastina yang dikuasai pamannya sendiri, Prabu Destarata. Namun, Destarata justru menitahkan Pandawa membuka hutan tandus yang nantinya akan menjadi negara Amarta untuk membangun kerajaan di sana.